Jumat, 13 November 2015

Mendidik diperbatasan!

Salambloggerperbtasan........
Kami sebagai pendidik diperbatasan negara,  apalagi mengahadapi siswa-siswa yang notabennya siswa-siswa yang heterogen, siswa yang terdiri dari beragam suku, bahasa, budaya, dan keragaman sosial lainnya, kami mendidik di daerah perbatasan, terkadang bertaruh dengan kondisi yang tak stabil seperti saat ini.
mendidik diperbatasan bukanlah hal yang mudah, tetapi walaupun dengan ketidak mudahan itu kami diperabatasan mencoba untuk tetap menjadi pendidik yang berbakti untuk negara,  kami juga harus menjalankan UUD 1945 yaitu mencerdas kehidupan bangsa,  itulah tugas kami untuk mencerdas bangsa agar menjadi insan yang cendikia.

Apalagi jika kita melihat kondisi lingkungan di perbatasan ini, dengan banyaknya tempat-tempat yang kurang baik seperti tempat pejudian, tempat sabung ayam serta tempat hiburan-hiburan yang tersebar di beberapa daerah yang memang masih kurang pengawasannya. Masih banyak anak-anak usia sekolah yang berada di lingkungan tersebut. Inilah yang menjadi tugas seorang guru dalam mendidik dan menciptakan karakter peserta didik dengan lingkungan yang extreem. itulah kondisi yang harus dihadapi kami diperbatasan ini, apalagi ditambah dengan kondisi siswa-siswa yang terkadang tak mendengar apa yang disampaikan guru, perbatasan negara...perbatasana negara!!!.
Salah satu blog yang sadur menceritakan tentang kondisi perbatasan saat ini, seperti dikutip dari  http://www.az-zahra-online.com/2015/10/guru-rela-berjuang-meski-tanpa-ada-uang.html Melihat kondisi pendidikan di perbatasan memang banyak yang pantas di ceritakan. Cerita negatif maupun positif seakan tak pernah habis pembahasannya. Sudah hampir 10 bulan saya mengabdi di batas negeri ini sebagai relawan yang mempunyai tujuan membantu pendidikan di perbatasan.
 
 Tentulah seorang guru saat ini harus mempunyai pandangan bahwa mereka harus belajar untuk mengajar. Belajar disini bermakna seorang guru harus memperbaharui kualitas mengajar, mendidik serta pembentukan karakter seorang anak. Jangan sampai guru yang seharusnya mengajar malah menghajar, yang seharusnya mendidik malah menghardik bahkan yang harusnya mengajar dengan kasih sayang malah mengajar dengan tangan yang melayang. Pendidikan saat ini tidak bisa disamakan dengan zaman dahulu kala. Di zaman modern sekarang ini, perkembangan pendidikan semakin pesat. Siswa tidak hanya belajar di sekolah saja, mereka sekarang ini bisa memanfaatkan media-media yang sudah tersedia secara bebas. Bahkan dengan teknologi sekarang ini, siswa bisa belajar dengan mudah mengenai ilmu-ilmu yang tidak diketahui baik di dalam maupun di luar negeri sesuai dengan keinginan mereka sendiri.

Menurut Rahayu dan Ahmad Rizali   negara perlu segera menangani persoalan mendasar tersebut. Ini mengingat tugas mereka mengajar di sana sifatnya hanya sementara. “Kamp-kamp TKI di sana anak-anaknya masih banyak yang buta huruf dan membutuhkan pendidikan, kemudian yang ke dua tawaran gajinya cukup dari pada di Indonesia. Kebutulan kalau di perusahaan saya ini fasilitas pendidikannya masih kurang dan seadanya.

 sebuah cerita dari orang yang pernah masuk didaerah perbatasan dikutip dari Reski Mandasari, S.Pd langkah awal menggapai cita-cita muliaku, menyusuri jalan penuh bebatuan tajam, melewati terjangan ombak yang dahsyat, menyeberangi sungai yang panjang, untuk satu tujuan datang kedaerah perbatasan,  namun aku tak mundur, terus kukepakkan cita-cita ku , karena aku ingin mereka pintar, aku ingin mereka termotivasi untuk terus belajar meski didaerah terpencil sekalipun, aku tak ingin mereka menjadi budak didaerahnya sendiri.
lain cerita Kurnia aji Y dari Daerah perbatasan kekurangan guru.Sementara kita disini belum sepenuhnya menghargai guru yang sudah ada.Kita sebaiknya lebih menghargai dan menghormati setiap guru,dan belajar yang sungguh-sungguh,Sehingga kita dapat menjadi pemimpin yang akan membangun Indonesia dan juga daerah perbatasan!.
 
Namun pada intinya mendidik diperbatasan tak semudah yang dibayangkan, oleh kita bahwa mendidik diperbatasan itu harus memiliki tingkat kesabaran yang tinggi serta kita juga harus bisa ikhlas untuk menjalankan tugas mulia ini, untuk mendidik putra putri sangga garuda di perbatasan negara. karena terdiri dari beragam macam kondisi yang sebenarnya.
 
Selanjutnya

Minggu, 16 November 2014

perpindahan ditapal batas!!!!

Mengikuti perkembangan pemberitaan dimedia massa pada saat ini,dalam beberapa hari ini terdengar bahwa terjadi lagi,seperti yang dikutip dari http://www.jpnn.com/read/2014/11/16/270208/Pemerintah-Tegaskan-3-Desa-di-Nunukan-Tak-Diklaim-Negeri-Jiran- edisi senin tanggal 17 november 2014
Pemerintah memastikan tiga desa di Kecamatan Lumbis Ongong, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara tidak diklaim oleh Malaysia. Menurut Panglima TNI Jenderal Moeldoko penduduk di Desa Simantipal, Desa Sinapad, dan Desa Sinokod memang sering bepergian ke Malaysia. Sebab, keluarga mereka ada yang berada di negeri Jiran.
Hal itu disampaikan oleh Moeldoko usai menyambut kedatangan Presiden Joko Widodo, di Bandara Halim Perdanakusuma, Minggu (16/11). Menurut Moeldoko, masyarakat di perbatasan Kalimantan Utara secara tradisional mempunyai hubungan biologis dengan Malaysia. "Mereka biasa bepergian ke Malaysia. Begitu juga sebaliknya," jelasnya.
Moeldoko juga mengatakan dia sudah melakukan observasi di lapangan. Kepergian penduduk Indonesia ke Malaysia itu disebabkan adanya acara keluarga. Tidak lantaran mereka berpindah kewarganegaraan." "Jadi bukan hal yang istimewa. Nanti juga kembali lagi," ucapnya.
Senada dengan Moeldoko, Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Tedjo Edhy Purdijatmo mengatakan perpindahan penduduk dari Nunukan ke Malaysia disebabkan pertemanan antara penduduk di perbatasan. Selain itu, di perbatasan antara Kalimantan Utara dan Malaysia tidak tembok pembatas. "Di sana hanya ada patok-patok," ujarnya.
Tedjo mengatakan selain acara keluarga, eksodus warga Indonesia ke Malaysia itu disebabkan faktor pekerjaan. Mereka setiap harinya bekerja di kebun milik Malaysia. Bahkan ada kebun yang masuk ke wilayah Indonesia." "Saking dekatnya jarak sehingga mereka bekerja dan belanja di Malaysia. Ke depannya kami akan berbincang dengan Malaysia. Agar kebun tidak masuk wilayah Indonesia," paparnya.
Tedjo mengakui banyaknya warga Indonesia yang bekerja dan belanja di Malaysia salah satunya disebabkan keterbatasan fasilitas di daerah perbatasan. Sehingga warga memilih untuk ke Malaysia membeli kebutuhan sehari-hari.
Menurut Tedjo, ke depannya pemerintah akan berusaha menjadikan daerah perbatasan lebih baik. Indonesia, kata dia, akan membangun wilayah perbatasan menjadi halaman depan Republik Indonesia. Seperti perumahan, perkantoran dan pusat perbelanjaan. "Sehingga tidak ada lagi ketimpangan antara Indonesia dan Malaysia," ucapnya.
Tak hanya itu, pihaknya juga akan memperketat daerah perbatasan. Sehingga tidak ada permasalahan yang bisa merong-rong kaedaulatan Indonesia.
Lebih lanjut, Tedjo mengatakan permasalahan itu bukan masalah yang bisa mengurangi kedaulatan Indonesia. Menurut dia Indonesia akan terus menjaga keutuhan wilayah NKRI. "Tidak ada klaim-klaim sepihak. Kami pertegas itu," paparnya. (aph)
yang kita harapkan pada saat ini perubahan didaerah perbatasan sangat perlu diperhatikan,karena yang kita takut,akan terjadi seperti pelepasan timor leste di zaman dahulu akan terulang,apabila dari pemeritah tidak serius memperhatikan daerah-daerah diperbatasan,yang sebagai beranda terdepan NKRI,sebeanya juga mungkin masyarakat yang ada di perbatasan daerah nunukan sana juga,tak ingin berpindah kependudukannya,tetapi karena tututan ekonomi yang semakin tinggi mengakibatnya mereka nekat untuk melakukannnya.
tetapi kita harapkan dari pemerintah juga dapat meneylesaikan permasalahan ini,demi keutuhan NKRI yang kita cinta selama ini...
Selanjutnya

Selasa, 04 Juni 2013

masjid jami' sultan ayub


ini adalah nampak tanda-tanda peradaban islam di sanggau,ini merupakan salah satu masjid tertua dl  sanggau,dan dilihat tanggal didirikannya saja kita tau masjid ini udah tua,hingga membuatnya harus direnovasi.


Selanjutnya

keraton sanggau

perjalan yang panjang dari perbatasan menuju sanggau,sebagai pusat kabuten sanggau tidak sia-sia ternyata apa yng diharapkan akhirnya tercapai juga,menilik keraton sanggau sebagi warisan budaya yang tak kan hillang,dan menjadi arsip sejarah sanggau,photo diatas hanya nampak dari jauh,sebagai orang sanggau yang jauh dari pusat kota membuat kita tetap jaga dan lestariakan apa yang yang masih tersisa sebagai arsip daerah.

Selanjutnya

proses pembuatan gula durian




Selanjutnya

bunga anggrek




Selanjutnya

mentari tak berkedip lagi

disaat senja mulai memanggil
hatiku lelah tak berdaya
seakan hidupku diujung tanduk
seperti bak matahari tak meredup

lelah..lelah terasa mengerikan air mata
hidupku kini tak seperti mentari yang dulu
kini mentari yang yang terang telah berganti mentari kelabu
dan seperti kan menangis mengenang kisah pilu yang pernah dirasa

walau kutau semua itu  hanya kisah lalu yang begitu pilu
yang pernah dirasa,diraba,dan di tatapi
akan kah mentari kelabu yang dulu aku rasa kan kembali
kutak sanggup bila ku rasakan perih sakit karna kamu

mentariku..
mentari yang kelabu ku tak mau kau kembali
mentari yang tak berkedip lagi
membuat pilu hati yang rusuh..

Selanjutnya

Jumat, 13 November 2015

Mendidik diperbatasan!

Salambloggerperbtasan........
Kami sebagai pendidik diperbatasan negara,  apalagi mengahadapi siswa-siswa yang notabennya siswa-siswa yang heterogen, siswa yang terdiri dari beragam suku, bahasa, budaya, dan keragaman sosial lainnya, kami mendidik di daerah perbatasan, terkadang bertaruh dengan kondisi yang tak stabil seperti saat ini.
mendidik diperbatasan bukanlah hal yang mudah, tetapi walaupun dengan ketidak mudahan itu kami diperabatasan mencoba untuk tetap menjadi pendidik yang berbakti untuk negara,  kami juga harus menjalankan UUD 1945 yaitu mencerdas kehidupan bangsa,  itulah tugas kami untuk mencerdas bangsa agar menjadi insan yang cendikia.

Apalagi jika kita melihat kondisi lingkungan di perbatasan ini, dengan banyaknya tempat-tempat yang kurang baik seperti tempat pejudian, tempat sabung ayam serta tempat hiburan-hiburan yang tersebar di beberapa daerah yang memang masih kurang pengawasannya. Masih banyak anak-anak usia sekolah yang berada di lingkungan tersebut. Inilah yang menjadi tugas seorang guru dalam mendidik dan menciptakan karakter peserta didik dengan lingkungan yang extreem. itulah kondisi yang harus dihadapi kami diperbatasan ini, apalagi ditambah dengan kondisi siswa-siswa yang terkadang tak mendengar apa yang disampaikan guru, perbatasan negara...perbatasana negara!!!.
Salah satu blog yang sadur menceritakan tentang kondisi perbatasan saat ini, seperti dikutip dari  http://www.az-zahra-online.com/2015/10/guru-rela-berjuang-meski-tanpa-ada-uang.html Melihat kondisi pendidikan di perbatasan memang banyak yang pantas di ceritakan. Cerita negatif maupun positif seakan tak pernah habis pembahasannya. Sudah hampir 10 bulan saya mengabdi di batas negeri ini sebagai relawan yang mempunyai tujuan membantu pendidikan di perbatasan.
 
 Tentulah seorang guru saat ini harus mempunyai pandangan bahwa mereka harus belajar untuk mengajar. Belajar disini bermakna seorang guru harus memperbaharui kualitas mengajar, mendidik serta pembentukan karakter seorang anak. Jangan sampai guru yang seharusnya mengajar malah menghajar, yang seharusnya mendidik malah menghardik bahkan yang harusnya mengajar dengan kasih sayang malah mengajar dengan tangan yang melayang. Pendidikan saat ini tidak bisa disamakan dengan zaman dahulu kala. Di zaman modern sekarang ini, perkembangan pendidikan semakin pesat. Siswa tidak hanya belajar di sekolah saja, mereka sekarang ini bisa memanfaatkan media-media yang sudah tersedia secara bebas. Bahkan dengan teknologi sekarang ini, siswa bisa belajar dengan mudah mengenai ilmu-ilmu yang tidak diketahui baik di dalam maupun di luar negeri sesuai dengan keinginan mereka sendiri.

Menurut Rahayu dan Ahmad Rizali   negara perlu segera menangani persoalan mendasar tersebut. Ini mengingat tugas mereka mengajar di sana sifatnya hanya sementara. “Kamp-kamp TKI di sana anak-anaknya masih banyak yang buta huruf dan membutuhkan pendidikan, kemudian yang ke dua tawaran gajinya cukup dari pada di Indonesia. Kebutulan kalau di perusahaan saya ini fasilitas pendidikannya masih kurang dan seadanya.

 sebuah cerita dari orang yang pernah masuk didaerah perbatasan dikutip dari Reski Mandasari, S.Pd langkah awal menggapai cita-cita muliaku, menyusuri jalan penuh bebatuan tajam, melewati terjangan ombak yang dahsyat, menyeberangi sungai yang panjang, untuk satu tujuan datang kedaerah perbatasan,  namun aku tak mundur, terus kukepakkan cita-cita ku , karena aku ingin mereka pintar, aku ingin mereka termotivasi untuk terus belajar meski didaerah terpencil sekalipun, aku tak ingin mereka menjadi budak didaerahnya sendiri.
lain cerita Kurnia aji Y dari Daerah perbatasan kekurangan guru.Sementara kita disini belum sepenuhnya menghargai guru yang sudah ada.Kita sebaiknya lebih menghargai dan menghormati setiap guru,dan belajar yang sungguh-sungguh,Sehingga kita dapat menjadi pemimpin yang akan membangun Indonesia dan juga daerah perbatasan!.
 
Namun pada intinya mendidik diperbatasan tak semudah yang dibayangkan, oleh kita bahwa mendidik diperbatasan itu harus memiliki tingkat kesabaran yang tinggi serta kita juga harus bisa ikhlas untuk menjalankan tugas mulia ini, untuk mendidik putra putri sangga garuda di perbatasan negara. karena terdiri dari beragam macam kondisi yang sebenarnya.
 

Minggu, 16 November 2014

perpindahan ditapal batas!!!!

Mengikuti perkembangan pemberitaan dimedia massa pada saat ini,dalam beberapa hari ini terdengar bahwa terjadi lagi,seperti yang dikutip dari http://www.jpnn.com/read/2014/11/16/270208/Pemerintah-Tegaskan-3-Desa-di-Nunukan-Tak-Diklaim-Negeri-Jiran- edisi senin tanggal 17 november 2014
Pemerintah memastikan tiga desa di Kecamatan Lumbis Ongong, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara tidak diklaim oleh Malaysia. Menurut Panglima TNI Jenderal Moeldoko penduduk di Desa Simantipal, Desa Sinapad, dan Desa Sinokod memang sering bepergian ke Malaysia. Sebab, keluarga mereka ada yang berada di negeri Jiran.
Hal itu disampaikan oleh Moeldoko usai menyambut kedatangan Presiden Joko Widodo, di Bandara Halim Perdanakusuma, Minggu (16/11). Menurut Moeldoko, masyarakat di perbatasan Kalimantan Utara secara tradisional mempunyai hubungan biologis dengan Malaysia. "Mereka biasa bepergian ke Malaysia. Begitu juga sebaliknya," jelasnya.
Moeldoko juga mengatakan dia sudah melakukan observasi di lapangan. Kepergian penduduk Indonesia ke Malaysia itu disebabkan adanya acara keluarga. Tidak lantaran mereka berpindah kewarganegaraan." "Jadi bukan hal yang istimewa. Nanti juga kembali lagi," ucapnya.
Senada dengan Moeldoko, Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Tedjo Edhy Purdijatmo mengatakan perpindahan penduduk dari Nunukan ke Malaysia disebabkan pertemanan antara penduduk di perbatasan. Selain itu, di perbatasan antara Kalimantan Utara dan Malaysia tidak tembok pembatas. "Di sana hanya ada patok-patok," ujarnya.
Tedjo mengatakan selain acara keluarga, eksodus warga Indonesia ke Malaysia itu disebabkan faktor pekerjaan. Mereka setiap harinya bekerja di kebun milik Malaysia. Bahkan ada kebun yang masuk ke wilayah Indonesia." "Saking dekatnya jarak sehingga mereka bekerja dan belanja di Malaysia. Ke depannya kami akan berbincang dengan Malaysia. Agar kebun tidak masuk wilayah Indonesia," paparnya.
Tedjo mengakui banyaknya warga Indonesia yang bekerja dan belanja di Malaysia salah satunya disebabkan keterbatasan fasilitas di daerah perbatasan. Sehingga warga memilih untuk ke Malaysia membeli kebutuhan sehari-hari.
Menurut Tedjo, ke depannya pemerintah akan berusaha menjadikan daerah perbatasan lebih baik. Indonesia, kata dia, akan membangun wilayah perbatasan menjadi halaman depan Republik Indonesia. Seperti perumahan, perkantoran dan pusat perbelanjaan. "Sehingga tidak ada lagi ketimpangan antara Indonesia dan Malaysia," ucapnya.
Tak hanya itu, pihaknya juga akan memperketat daerah perbatasan. Sehingga tidak ada permasalahan yang bisa merong-rong kaedaulatan Indonesia.
Lebih lanjut, Tedjo mengatakan permasalahan itu bukan masalah yang bisa mengurangi kedaulatan Indonesia. Menurut dia Indonesia akan terus menjaga keutuhan wilayah NKRI. "Tidak ada klaim-klaim sepihak. Kami pertegas itu," paparnya. (aph)
yang kita harapkan pada saat ini perubahan didaerah perbatasan sangat perlu diperhatikan,karena yang kita takut,akan terjadi seperti pelepasan timor leste di zaman dahulu akan terulang,apabila dari pemeritah tidak serius memperhatikan daerah-daerah diperbatasan,yang sebagai beranda terdepan NKRI,sebeanya juga mungkin masyarakat yang ada di perbatasan daerah nunukan sana juga,tak ingin berpindah kependudukannya,tetapi karena tututan ekonomi yang semakin tinggi mengakibatnya mereka nekat untuk melakukannnya.
tetapi kita harapkan dari pemerintah juga dapat meneylesaikan permasalahan ini,demi keutuhan NKRI yang kita cinta selama ini...

Selasa, 04 Juni 2013

masjid jami' sultan ayub


ini adalah nampak tanda-tanda peradaban islam di sanggau,ini merupakan salah satu masjid tertua dl  sanggau,dan dilihat tanggal didirikannya saja kita tau masjid ini udah tua,hingga membuatnya harus direnovasi.


keraton sanggau

perjalan yang panjang dari perbatasan menuju sanggau,sebagai pusat kabuten sanggau tidak sia-sia ternyata apa yng diharapkan akhirnya tercapai juga,menilik keraton sanggau sebagi warisan budaya yang tak kan hillang,dan menjadi arsip sejarah sanggau,photo diatas hanya nampak dari jauh,sebagai orang sanggau yang jauh dari pusat kota membuat kita tetap jaga dan lestariakan apa yang yang masih tersisa sebagai arsip daerah.

proses pembuatan gula durian




bunga anggrek




mentari tak berkedip lagi

disaat senja mulai memanggil
hatiku lelah tak berdaya
seakan hidupku diujung tanduk
seperti bak matahari tak meredup

lelah..lelah terasa mengerikan air mata
hidupku kini tak seperti mentari yang dulu
kini mentari yang yang terang telah berganti mentari kelabu
dan seperti kan menangis mengenang kisah pilu yang pernah dirasa

walau kutau semua itu  hanya kisah lalu yang begitu pilu
yang pernah dirasa,diraba,dan di tatapi
akan kah mentari kelabu yang dulu aku rasa kan kembali
kutak sanggup bila ku rasakan perih sakit karna kamu

mentariku..
mentari yang kelabu ku tak mau kau kembali
mentari yang tak berkedip lagi
membuat pilu hati yang rusuh..